Tumpeng Nusantara

Tumpeng Nusantara, Sebuah tradisi yang mulai dibangkitkan.

Mentari masih tampak malu2 menampakan dirinya diufuk timur. Udara dingin juga masih terasa menyergap kulit yang membuat malas untuk meninggalkan peraduan. Tapi pagi kami harus sudah sampai di area Candi Penataran untuk mengikuti acara tumpeng nusantar, yaitu suatu tradisi dimana pada jaman kerajaan majapahit dahulu di masa pemerintahan Sang Hyang Rani Tribuana Tungga Dewi oada masanya membawa tumpeng beserta hasil bumi dan ternak dari Bale kambang ke candi Palah untuk melakukan ritual. Dimana semua kebutuhan ritual itu bertujuan untuk kemakmuran dan mempersatukan masyarakat di jaman pemerintahan Tribuana Tungga dewi.

persiapan di bale kambang

persiapan tumpeng nusantara

Udara mulai terasa menghangat ketika kami sampai di area situs Bale Kambang, yang merupakan situs berupa umpak (pondasi untuk soko guru) yang berada di desa modangan. Sayup-sayup terdengar suara gamelan yang melantunkan lagu pengiring tari jaranan. Aura mistis semakin terasa ketika kami sudah berada disitus Bale Kambang, bau dari dupa dan ratus begitu menyengat indera penciuman kami. Di pelataran Bale Kambang di gelar pertunjukan seni jaranan untuk menyambut tumpeng dan ubo rampe yang akan diarak nantinya, selain itu pertunjukan itu juga ditujukan untuk menghibur para penduduk sekitar yang berada di sekitar Bale Kambang yang akan menyaksikan acara tumpeng Nusantara.

Ketika pertunjukan jaranan mulai memasuki tari adu kekuatan dimana beberapa penari membawa barong kepruk yaitu barongan yang digunakan dengan cara dipukul-pukulkan kepaha para penari untuk mengeluarkan bunyi dan menunjukan kekuatanya. Disaat iniliha terjadi insiden dimana salah satu penari kerasukan oleh salah satu penunggu dari situs Bale Kambang. Ketika kami sempat bertanya  suara dari si penari telah berubah mirip suara nenek-nenek padahal penari tersebut gagah. ah, sungguh sulit dinalar jika menggunakan rasional, tapi itu benar-benar terjadi.

tari barong kepruk

tari barong kepruk menggambarkan tari barong yang mengadu kekuatan dari masing2 penari

kerasukan

salah satu penari yang kerasukan salah satu penunggu situs bale kambang

Persiapan arak-arakan tumpeng nusantara sudah selesai, semua yang terlibat dalam acara juga sudah siap, kami dari gus kabupateng blitar didaulat untuk membawa bendera dan umbul kebesaran majapahit yang berwarna merah putih. Sedangakan dari para jeng ditugasi untuk membawa dupa dan ubo rampe yang sudah dimasukan kedalam bokor.

arak2an Tumpeng Nusantara

Tumpeng nusantara diarak dari Bale Kambang menuju candi Palah

Tumpeng Nusantara mulai diarak dari Bale Kambang menuju ke Candi Palah (penataran) melewati jalan desa, disepanjang jalan penduduk desa begitu antusias untuk ikut menyaksikan jalanya acara tersebut. Padahal acara ini masih pertama kali digelar dan belum banyak publikasi. Bahkan ketika kami sempat bertanya pada salah seorang penonton mengatakan bahwa dia kebetulan lewat dan melihat acara ini, sungguh sayang katanya acara seperti ini kok tidak dipublikasikan. Perjalanan sejauh kurang lebih 2 km tidak membuat para pangarak Tumpeng Nusantara merasa lelah, padahal udara disekitaran Candi Palah mulai menyengat. Setelah sampai di candi Palah tumpeng disambut oleh tarian solo dari seorang penari di pelataran Candi untuk kemudian di bawa ke puncak candi induk untuk dilakukan ritual selamatan.

ubo rampe

Ubo rampe tumpeng nusantara disiapkan dipuncak candi Palah untuk di do’akan.

doa sesaji

Isi dari tumpeng nusantara yg diarak di do’akan dipuncak candi Palah agar harapan dari semua masyarakat yang ikut bisa terkabul.

Setelah semua prosesi ritual dicandi induk selesai tumpeng dibawa ke pelataran candi untuk diserahkan dari pemuka agama kepada wakil dari masyarakat. Setelah dibacakan do’a oleh pemuka masyarakat tumpeng kemudian dijadikan rebutan sebagai simbul untuk ngalap berkah bagi warga sekitar. Acara tumpeng nusantara ini juga dihadiri oleh budayawan Pong Handrijatmo yang ikut juga memberi pendapat beliau yang ininya kita harus terus melestarikan budaya kita yang mulai tergerus oleh budaya asing, padahal pada jaman majapahit orang asinglah yang mengikuti budaya kita seperti terukir pada relief candi palah.

penulis: admin
foto: wahyu rizki, phu

~ oleh gusjengkabupatenblitar pada Juni 29, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: